Jumat, 28 Maret 2014

Toleransi tercermin dalam surat al-kafirun

1. pendahuluan

Assalamualaikum WR.WB
H
ai para pembaca, semoga kalian di beri kesehatan dan keselamatan oleh allah. Al-quran turun adalah sebagai pedoman hidup manusia, dalam beribadah, bertingkah laku, bersikap serta dalam menyikapi berbagai hal serta kejadian dalam kehidupan ini. Alquran juga diturunkan allah untuk mengatur kehidupan manusia, didalamnya terdapat aturan-aturan, larangan-larangan, serta hukum-hukum yang mengatur manusia dalam hidup ditengah masyarakat. Jelaslah kalau al-quran memuat aspek ketentraman bagi mahluknya, terutama umat manusia. Dari al-quran pula menyebutkan berbagai interaksi, komunikasi serta anjuran bersosialisasi sesama manusia. Ngaji kita kali ini akan membahas mengenai salah satu sifat yang tertera dalam al-quran namun juga sifat yang ada dalam dunia sosiologi maupun kehidupan sosial.

2. Daftar Isi
a. pendahuluan
b.daftar isi
c. pembahasan
d. penutup

3. pembahasan
[6] Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." QS. Al Kaafiruun : 6
            Ayat diatas menunjukan bagaimana islam memberi kebebasan kepada sesama manusia dalam memilih agama, keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Semua yang ada diberikan batasan-batasan, tidak dicampur baurkan menjadi satu, jadi yang dimaksud “untukmulah agamamu” adalah suatu kalimat yang mewakili kata bahwa agama yang dianut mereka dengan yang dianut islam tidak boleh di satukan atau dicampurbaurkan. Karna akidah yang ada pada agama mereka dan akidah yang ada pada islam jelas berbeda.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia toleransi berasal dari kata “toleran” (Inggris: tolerance; Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada. Sedangkan menurut istilah (terminology), toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan. Toleransi antar umat beragama yang berbeda termasuk ke dalam salah satu risalah penting yang ada dalam Islam. Karena Tuhan senantiasa mengingatkan kita akan keragaman manusia, baik dilihat dari sisi agama, suku, warna kulit, adapt-istiadat, dsb.  Toleransi beragama harus dipahami sebagai bentuk pengakuan kita akan adanya agama-agama lain selain agama kita dengan segala bentuk system, dan tata cara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agama masing-masing. Keyakinan umat Islam kepada Allah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain terhadap tuhan-tuhan mereka. Demikian juga dengan tata cara ibadahnya. Dalam mengembangkan sikap toleransi secara umum, dapat kita mulai terlebih dahulu dengan bagaimana kemampuan kita mengelola dan menyikapi perbedaan (pendapat) yang (mungkin) terjadi pada keluarga kita atau pada keluarga/saudara kita sesama muslim. Sikap toleransi dimulai dengan cara membangun kebersamaan atau keharmonisan dan menyadari adanya perbedaan. Dan menyadari pula bahwa kita semua adalah bersaudara. Maka akan timbul rasa saling pengertian dan pada akhirnya akan bermuara pada sikap toleran. Dalam konteks pendapat dan pengamalan agama, al-Qur’an secara tegas memerintahkan orang-orang mu’min untuk kembali kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah).
Jadi sudah jelas, bahwa sisi akidah atau teologi bukanlah urusan manusia, melainkan Tuhan SWT dan tidak ada kompromi serta sikap toleran di dalamnya. Sedangkan kita bermu’amalah dari sisi kemanusiaan kita.

Al-Qur’an juga menganjurkan agar mencari titik temu dan titik singgung antar pemeluk agama. Al-Qur’an menganjurkan agar dalam interaksi sosial, bila tidak ditemukan persamaan, hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain dan tidak perlu saling menyalahkan.

4. Penutup
            Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganut-penganutnya. Disamping dari kalimat "Lakum diinukum waliya diin", makna tersebut juga diambil firman Allah yang lain seperti "Laa ikraaha fid-diin", yang berarti Islam mengakui adanya kebebasan beragama bagi setiap orang, dan bukan kebebasan mengganggu, mempermainkan atau merusak agama yang ada. Dan karenanya, Islam membenarkan kaum muslimin untuk berinteraksi dengan ummat-ummat non muslim itu dalam bidang-bidang kehidupan umum. Namun di saat yang sama Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa baraa’ atau penolakan total terhadap setiap bentuk kesyirikan aqidah, ritual ibadah ataupun hukum, yang terdapat di dalam agama-agama lain. Maka tidak boleh ada pencampuran antara Islam dan agama-agama lain dalam bidang-bidang aqidah, ritual ibadah dan hukum. Terima kasih.